Generasi Muda vs Generasi Tua

Posted on 29 November 2009. Filed under: Info |

Di mana saja, kita pasti menemukan segolongan manusia yang termasuk “generasi muda”, dan segolongan lagi yang bernama “generasi tua”. Biasanya, generasi tua cenderung berpikir konservatif (walau ada juga yang tidak). Mereka cenderung mempertahankan tradisi yang sudah dibangun sejak awal. Dan ketika generasi muda muncul untuk merubah tradisi tersebut, si generasi tua tidak setuju. Mereka berpendapat bahwa tradisi harus dipertahankan karena sudah sangat baik, sudah menjadi tradisi selama bertahun-tahun, dan mereka sudah bersusah-payah membangun dan memeliharanya. Mereka seperti tidak rela jika kerja keras mereka selama ini “dihancurkan” begitu saja oleh para generasi muda.

Sementara si generasi muda punya pandangan yang berbeda. Menurut mereka, jaman sudah berubah. Tradisi tak lagi sesuai dengan perkembangan dunia. Lagipula, mereka punya konsep yang – diklaim – jauh lebih baik.

*****

Tahun 1998 lalu, saya pernah menjadi “generasi tua”. Saat itu, saya sudah lulus kuliah, namun masih terdaftar sebagai Redaktur Pelaksana pada Koran Kampus MANUNGGAL Universitas Diponegoro. Sekadar info, MANUNGGAL saat itu masih berstatus koran kampus, yang dikelola oleh mahasiswa dan dosen (sekarang sih, sudah murni jadi pers mahasiswa). Jabatan tertinggi yang dipegang oleh  mahasiswa adalah Redaktur Pelaksana (redpel). Adapun Pemimpin Redaksi, dipegang oleh dosen. Jadi boleh dibilang, saya waktu itu menduduki jabatan tertinggi untuk mahasiswa.

Waktu itu, ada tradisi yang dibangun di Manunggal, yang saya teruskan dari para pendahulu saya. Setiap kali regererasi (pergantian pengurus), satu orang redpel lama tetap dipertahankan, lalu ditemani oleh dua orang redpel baru. jadi, jumlah redpel adalah tiga orang.

Sistem seperti ini bukan tanpa maksud. Diharapkan, redpel lama yang masih bertahan bisa menjadi “guru” bagi dua redpel baru, mengajari mereka tentang tugas-tugas redpel, membekali mereka dengan misi dan visi Manunggal yang harus tetap dipertahankan, dan seterusnya. Dengan cara ini, diharapkan kesinambungan organisasi (dari berbagai segi) akan tetap berjalan dengan baik.

Saya sangat setuju dengan sistem ini. Maka, tahun 1998 itu, ketika saya harus lengser dari jabatan redpel, saya mempertahannya. Saya kemukakan alasan-alasan saya. Saya bilang, ini bukan masalah tradisi. Memang ada tradisi yang tidak baik. Tapi jika tradisi itu baik, apa salahnya jika kita pertahankan?

Ternyata, usul saya ini ditolak mentah-mentah. Para pengurus baru, para generasi muda atau junior-junior saya, amat tidak setuju dengan pendapat saya itu. Mereka ingin agar jumlah redpel cukup dua orang, dan keduanya harus orang baru. Tentu saja, mereka pun punya alasan-alasan yang sangat kuat untuk mempertahankan usulan ini.

Akhirnya, saya pun menyerah. Saya pikir, kalau pun saya ngotot, buat apa? Toh setelah ini saya akan meninggalkan MANUNGGAL. Saya akan jadi alumni.

Memang, sebagai senior, saya punya keinginan agar ada tradisi atau konsep tertentu dari para “generasi tua” yang sebaiknya tetap dipertahankan oleh “generasi muda”. Sebagai senior, saya tidak ingin organisasi yang saya tinggalkan akan tumbuh menjadi sesuatu yang benar-benar berbeda.

Tapi ternyata, ada saatnya si generasi tua harus “menyerah” pada hukum alam. Ada saatnya mereka tidak punya kekuatan apapun untuk mengatur berbagai hal. Dan itulah yang saya alami saat itu.

Apakah saya kecewa?
Untuk beberapa menit, terus terang YA. Saya kecewa.
Tapi setelah berpikir lebih lanjut, saya mencoba tersenyum lebar. Saya mencoba bersikap bijaksana.

Saya sadar bahwa setiap orang punya pemikiran yang berbeda. Apa yang saya anggap baik, belum tentu baik bagi orang lain. Terlebih jika konteksnya adalah perbedaan generasi. Tentu perbedaan pemikiran pun akan sangat terasa.

Saya bahkan mencoba berpikir, “siapa tahu konsep para junior saya itu jauh lebih baik daripada konsep yang saya pertahankan. Siapa tahu, dengan konsep baru itu mereka bisa membawa MANUNGGAL menjadi pers kampus yang lebih baik dan lebih disegani.”

Maka, dengan pemikiran seperti itu, saya mencoba bersikap legowo. Saya tentu harus berpikir positif. Adik-adik saya itu, para junior saya, tentu punya komitmen, konsep dan motivasi yang sangat baik. Mereka pun pasti punya cita-cita yang sama seperti saya. Jadi, buat apa memperpanjang masalah jika yang kita hadapi hanya perbedaan persepsi?

* * *

Sekarang, ketika usia saya makin bertambah, sesekali saya mencoba melirik sejumlah organisasi kampus yang dulu pernah saya geluti, termasuk MANUNGGAL. Saya tersenyum bahagia. Walau pengelolanya punya konsep dan cara kerja yang berbeda dengan saya, organisasi tersebut dapat tampil menjadi organisasi yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Ya, saya hanya seorang generasi tua. Kita semua pun, yang mungkin saat ini masih menjadi generasi muda, suatu saat nanti akan menjadi generasi tua. Akan tiba saatnya ketika kita harus ikhlas dalam menerima perubahan dan berbagai perbedaan.

http://jonru.multiply.com/journal/item/82

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: